XI Sunday In Ordinary Time (C) Homily

XI Sunday In Ordinary Time (C)
2 Sm. 12, 7 -10, 13
Ps. 32
Gal. 2, 16, 19-21
Lk. 7, 36 – 50

My dear brothers and sisters in Christ,

In this Jubilee Year of God’s Mercy and Compassion, we read in the Gospel today how Jesus shows God’s mercy and compassion upon the woman, a well-known prostitute and sinner in town. She came suddenly into the house of Simon, the Pharisee, to kiss Jesus’ feet and wash His feet with her tears, wipe them with her hair and anoint them with the costliest perfume . Jesus was touched by the gesture of this woman – a gesture to show her deep sorrow and repentance for her sins. However, Simon the Pharisee did not understand the woman’s action. He said to himself: “if Jesus were a prophet, he would know that this woman is a great sinner.” Indeed, Jesus is a prophet, and more than a prophet… Jesus is God… a God who loves everybody, saints and sinners. But more than that, Jesus loves sinners, it is for sinners that Jesus came to save the world. It is for the poor and the destitute and the marginalized people in society that Jesus came to liberate from the shackles of poverty and sinfulness. But Simon’s idea of God is different from Jesus’. For Simon, God does not reach out to sinners, only to the righteous. God only mixes with good and righterous people, not with sinners, not with the poor and the downtrodden, not with the marginalized people like the lepers and the blind, the sick and the crippled. What a contrast!

Seeing this woman wash His feet with her tears, and wipe them out with her hair and anoint them with the costliest perfume, Jesus said to her: “Woman, your sins are forgiven.” The other Pharisees at dinner-table who heard Jesus, were scandalized and said one to another: “Who is this man who even forgives sins?” For the Pharisees, only God can forgive sins, no one else, no human being can forgive sins except God. The Pharisees are right in saying that only God can forgive sins. And Jesus is God, therefore He can forgive sins. Here Jesus proves that He is God by saying to the woman: “Your sins are forgiven.” Then Jesus said to the woman: “Your faith has saved you. Go in peace.” And you know what happened to the woman? She repented of her sins and followed Jesus, and became one of His faithful women-disciples.

My friends: The Gospel very clearly describes to us that God in Jesus Christ is merciful, compassionate and forgiving. He loves sinners who approach Him in faith and devotion. He opens His hands readily to them who ask for His forgiveness, peace, and salvation. Like the woman, let us acknowledge our sinfulness before God and confess our sins through the Sacrament of Reconciliation which was instituted by Christ. There in the Sacrament of Reconciliation, the priest, who represents Christ at that moment, says to the penitent: “I absolve you of your sins in the name of the Father, and of the Son and of the Holy Spirit.” Right there and then our sins are forgiven and we are reconciled with God again. God gives us another chance to live godly.

In the first reading, like in the Gospel, God shows His mercy, compassion and forgiveness to King David. Despite all the blessings God had bestowed upon him, King David responded with ingratitude by committing adultery and murder. First, he took Bathseba, the wife of Uriah, and slept with her and then, killed Uriah, husband of Bathseba so he could have Bathseba as his wife. But God sent prophet Natan to reprimand King David of his evil deeds, which he did. King David became conscious of his double sins and repented. God forgave him and gave him more years to live.

Again, in the first reading God tells us that there is forgiveness of sins, if only we come to Him, repent of our sins and return to God.

My friends: If God forgives us our sins, if God is merciful, compassionate and forgiving towards us, we should show our mercy, compassion and forgiveness towards other people too, especially those who have offended us. We should also forgive those who sin against us, as we always say in the “Our Father”: “And forgive us our sins as we forgive those who sin against us.” Like God, we should also be merciful, and compassionate towards the poor, the downtrodeen, the sick and the marginalized in society – people who do not count in our society.

How can we show our mercy and love toward other people? The answer is this: In order to show our love and concern, mercy and compassion towards other people, Pope Francis urges us to practice the 7 Corporal Works of Mercy. What are they? They are: 1) to give food to the hungry; 2) to give drink to the thirsty; 3) to give shelter to the homeless 4) to give clothing to the naked 5) to visit the sick, 6) to visit the prisoners and 7) to bury the dead. Have we done one or several of those works of mercy? I hope each one of us, one time or another, one way or the other, has done one or several of them. Besides that, there are also 7 Spiritual Works of Mercy. They are: 1) Admonish the sinner 2) Instruct the ignorant 3) Counsel the doubtful 4) Comfort the sorrowful 5) Bear wrongs patiently 6) Forgive all injuries and 7) Pray for the living and the dead. Have we done one or some of these spiritual works of mercy? Again, I hope each one of us has in one time or another, in one way or the other, has done one or several of them.

My friends: God loves us. He is merciful and compassionate towards us sinners. Let us go to Him with faith and ask for His forgiveness and mercy like the woman in the Gospel and King David in the first reading. Like our God who is merciful, compassionate and forgiving, we too should do likewise.

My brothers and sisters: To summarize our reflection, I would like to quote from the responsorial psalm we sang a while ago: “ Lord, forgive the wrong I have done.” (Ps. 32) Amen.

By: Rev. Fr. Ernesto Amigleo, CICM

Facebooktwittermail
Facebooktwitterrss

Sejarah CICM di Indonesia

Awal Mula

Pada tahun 1919, seluruh wilayah Sulawesi ditetapkan sebagai Vikariat Apostolik dan dipercayakan kepada kongregasi MSC. MSC yang saat itu berpusat di Manado kemudian mengutus dua orang imam untuk berkarya di Makassar (termasuk seluruh wilayah Toraja) dan dua di imam diutus ke Raha, Sulawesi Tenggara.

Pada 1936, CICM yang saat itu telah memiliki 200 anggota asal Belanda merasa sudah saatnya untuk memulai misi di wilayah Indonesia, yang saat itu disebut Hindia Belanda. Awalnya MSC menawarkan kepada CICM untuk mengambil alih tugas pelayanan di Guinea Barat (Papua). Saat yang bersamaan ada juga tawaran dari OFM Cap untuk mengambil alih sebagian wilayah pedalaman Kalimantan. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka kedua usulan tersebut ditolak. CICM kemudian mengusulkan agar Sulawesi Selatan dan Tenggara dipisahkan dari Vikariat Apostolik Sulawesi dan diserahkan ke dalam pelayanan CICM. Usul CICM ini kemudian disampaikan kepada Provinsial MSC di Belanda, Vikaris Apostolik Sulawesi, Mgr. W. Panis, MSC dan diteruskan kepada Propaganda Fide di Roma. Pada 13 April 1937, usul CICM ini diterima oleh Vatikan dengan keputusan untuk membagi wilayah Vikariat Apostolik Sulawesi menjadi dua bagian. Wilayah Utara Sulawesi dipercayakan kepada MSC dengan Mgr. W. Panis, MSC tetap menjadi Vikaris Apostoliknya. Bagian Selatan dan Tenggara Sulawesi sendiri dipercayakan kepada CICM dengan Mgr. W. Panis, MSC untuk sementara ditunjuk menjadi administrator Apostoliknya.

Pada 2 Juni 1937, dua pastor CICM untuk pertama kalinya tiba di Makassar, yakni P. Charles Dekkers dan P. Jan van den Eerenbeemt. Keduanya sebelumnya menjadi misionaris di China. P. Jan van den Eerenbeemt ditugaskan di Raha (pulau Muna) menggantikan P. J. Spelz, MSC. Sedangkan P. C. Dekkers ditugaskan di Makassar, termasuk Sepang (Toraja Barat) dan Tana Toraja.

Pada 11 Juni 1937, Mgr. Gerard Martens, CICM secara resmi ditunjuk oleh Vatikan untuk menjadi Prefek Apostolik Sulawesi Selatan dan Tenggara. Berdasarkan penunjukkan tersebut, maka Mgr. G. Martens berangkat dari Belanda ke Makassar dengan tiga orang pastor CICM lainnya, yakni P. Chris Eykemans, P. Cornelis (Kees) van der Zant dan P. Gerard Menting. Pada 21 Oktober 1937, Mgr. G. Martens dilantik oleh Mgr. W. Panis, MSC sebagai Prefek Apostolik dengan moto ‘Sehati Sejiwa’. Tak lama berselang tiba sebelas pastor CICM di Makassar, yakni P. Gerrit Giezenaar, P. Voud Vervoort, P. Adrian van der Krabben, P. Wim Letschert, P. Jan van Empel, P. Nicholas Schneiders, P. Frans van Roesel, P. Harry Versteden, P. Ties Pijnenberg, P. Bert Raskin dan P. Paul Bressers. Pada saat itu telah ada 1955 orang Katolik di wilayah Sulawesi Selatan dan tenggara (750 orang diantaranya adalah orang Eropa). Penduduk Sulawesi Selatan sendiri saat itu berjumlah tiga juta orang dengan 33.000 orang adalah pemeluk agama Protestan.

Para pioner CICM dengan bantuan beberapa guru agama (pengantar) melakukan berbagai kegiatan untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya katekese umat untuk pembaptisan dan membangun sekolah-sekolah untuk mendidik anak-anak di kampung-kampung serta mulai melakukan kaderisasi dengan mendidik para awam serta mengirim beberapa anak dari Toraja untuk belajar di Makassar. Selain itu juga mereka berevangelisasi lewat bidang pertanian dan kesehatan.

 

Kerikil di Tengah Perjalanan

Pada 1 April 1940, kelompok misionaris muda ini telah kehilangan P. Chris Eykemans yang meninggal dunia karena sakit di Makassar. Sebuah pukulan berat bagi karya misi yang baru dirintis, tetapi juga sebagai sesuatu yang menantang para imam CICM untuk terus menyalakan api Injil di tanah Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Pada 9 Februari 1942, pasukan angkatan laut jepang mendarat di Makassar, untuk selanjutnya menguasai seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Pendudukan Jepang ini mempengaruhi karya misi para imam CICM di Sulawesi Selatan dan Tenggara karena semua imam CICM dipenjara di Pare-Pare. Selama masa Jepang Gereja Katolik tetap hidup berkat para guru agama dan katekis awam yang sangat berdedikasi memelihara iman umat. Hal ini sekali lagi menunjukkan karya Tuhan yang luar biasa dengan menghadirkan para pemimpin awam ditengah masa yang penuh dengan kesulitan dan tantangan. Para imam CICM dipenjara bersama 600 orang lainnya. Dalam masa penahanan ini mereka mengalami penyiksaan, kerja paksa, kelaparan, kekurangan gisi dan beraneka ragam penyakit. P. N. Schneiders, CICM yang dipilih sebagai ketua kamp penahanan bahkan pernah disiksa sampai pingsan karena melakukan protes atas situasi buruk yang dialami para tahanan. Masa yang sulit ini berakhir pada tahun 1945 ketika Jepang meninggalkan Indonesia. Semua imam CICM yang dipenjara kemudian bebas untuk melanjutkan kembali karya misi Gereja. Pada masa 1940-1950-an semakin banyak imam CICM yang dikirim ke Indonesia. Diantaranya adalah P. Gijs van Schie. P. Toon Denissen, P. Cor van de Meerendonk, P. jan van herself, P. Raymond Stock, P. Clem Scheurs, P. Paul Catry, P. Michele Mingneau dan P. Jerome Pattyn.

Vatikan pada 13 Mei 1948 meningkatkan status Prefektur Apostolik Makassar menjadi Vikariat Apostolik. Mgr. N. Schneiders, CICM ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Makassar menggantikan Mgr. G. Martens. Mgr. G. Martens sendiri diangkat menjadi Provinsial pertama CICM Indonesia. Namun beberapa bulan setelahnya beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Makassar pada 24 September 1949.

Periode 1949 – 1965 situasi keamanan di Sulawesi Selatan ternyata semakin memburuk dengan adanya pemberontakan Kahar Muzakar dan peristiwa PKI. Pemberontakan Kahar Muzakar sendiri mengakibatkan semua pendeta Protestan untuk meninggalkan Tana Toraja karena merasa terancam keselamatannya. Pada masa ini pun muncul pertanyaan: Apakah kita harus tinggal atau pergi dari Tana Toraja? Para imam CICM di Tana Toraja memutuskan untuk tetap tinggal bersama umat dalam situasi sulit ini. Keputusan mereka kemudian dikuatkan oleh Provinsial CICM Indonesia dan Superior General di Belgia. Pertengahan Juli 1950, P. G. Giezenaar yang dalam perjalanannya dari Tana Toraja ke Makassar mengalami penembakan di daerah Maros. Untuk menyelamatkan diri, mereka harus melompat keluar dari mobil dan bersembunyi di persawahan. Pada masa ini juga beberapa katekis menjadi martir karena dibunuh akibat mempertahankan iman mereka.

Pada 12 Februari 1953, P. Harry Versteden, CICM didatangi sekelompok orang di pastorannya di Minangga, Tana Toraja memohon pelayanan sakramen orang sakit. P. H. Versteden yang pergi bersama sekelompok orang ini tak pernah kembali lagi ke pastorannya. Kemudian hari baru disadari bahwa beliau telah diculik oleh gerilyawan. Seluruh konfrater CICM di seluruh dunia bersama umat di Tana Toraja, Luwu dan Makassar menyatukan doa untuk pembebasan P. H. Versteden. CICM dan umat harus menjalani penantian yang panjang akan kepastian nasib P. H. Versteden. Sembilan tahun setelah diculik dan dibawa ke dalam hutan, P. H. Versteden yang sementara sakit berat bisa diselamatkan dengan bantuan Brigadir Jenderal Muhammad Yusuf. Teror dari para gerilyawan juga dialami oleh beberapa imam CICM lainnya yang bertugas di Tana Toraja dan Toraja Barat dan Muna.

 

Tunas Itu Terus Bertumbuh

6 Juli 1952 Mgr. Schneiders mengalihfungsikan asrama putra di Makale menjadi seminari menengah sebagai jawaban dari pertanyaan Paus Pius XII dalam audensinya di Roma. Tahun 1953 seminari menengah ini dipindahkan ke Jl. Gagak di Makassar dan secara resmi dinamakan seminari menengah Petrus Claver. Untuk merespon kebutuhan untuk membangun Gereja Lokal yang kuat dan mandiri, maka CICM dalam kesepakatan dengan Mgr. Schneiders, CICM sepakat untuk tidak menerima kandidat imam untuk CICM. Semua siswa seminari Petrus Claver diarahkan untuk menjadi imam diosesan untuk memenuhi kebutuhan Gereja Lokal. Oleh sebab itu, sejak 1937 – 1977, CICM tidak menerima calon imam asal Indonesia.

Sekitar tahun 1974 mulai muncul desakan dari General Government di Roma untuk mulai memikirkan adanya sebuah rumah pendidikan CICM di Indonesia. Pada saat yang kurang lebih sama, juga ada tantangan dari Mgr. Leo Soekoto, Uskup Agung Jakarta kepada Provincial CICM Indonesia, P. Paul Catry: mengapa CICM tidak menerima orang Indonesia sebagai calon CICM? Apakah orang Indonesia tidak cukup berharga untuk menjadi misionaris CICM?

Dalam masa kepemimpinan P. Michel Mingneau sebagai Provinsial CICM Indonesia (1977 – 1982), kebutuhan akan hadirnya rumah pendidikan CICM di Indonesia mulai serius didiskusikan. Akhirnya pada tahun 1979, CICM mulai membuka seminari tinggi di Jakarta dengan P. Ludo Reekmans sebagai rektornya. Tiga calon pertama CICM menjalani kuliah di STF Driyarkara Jakarta. 16 Januari 1982 Uskup Agung Makassar, Mgr. Frans Van Roessel menerbitkan surat izin resmi pendirian novisiat CICM di Makassar. Pada mulanya bertempat di Malino, namun setahun kemudian dipindahkan untuk sementara ke wisma Kare di Makassar. Baru pada 19 Maret 1985 Novisiat secara resmi dipindahkan ke Sang Tunas di Daya – Makassar, rumah pendidikan yang digunakan sampai sekarang. Hal ini ditandai dengan pemberkatan rumah novisiat oleh P. Paul van Daelen, Superior General CICM.       

Pendirian rumah pendidikan CICM di Indonesia menjadi sebuah tonggak sejarah bagi CICM di Indonesia dan CICM di seluruh dunia. Tunas-tunas yang dihasilkan telah hidup dan bertumbuh di berbagai belahan dunia. Saat ini tunas-tunas muda CICM Indonesia telah diutus sebagai misionaris di sembilah negara di empat benua yang berbeda. Kehadiran tunas-tunas muda ini telah menjadi saksi akan persaudaraan universal dimana pun mereka hadir dan berkarya. Apa yang telah ditabur dan ditanam oleh para pendahulu CICM di Indonesia kini perlahan telah bertumbuh dan berbuah. Sekali lagi, Tuhan telah menunjukkan kebesarannya dalam perjalanan iman CICM di Indonesia. Kehadiran Tuhan sungguh menjadi kekuatan tak terbatas bagi para pendahulu dalam situasi penuh kesulitan, tantangan, penganiyaan, penculikan dan ancaman. Karya Tuhan yang ajaib sungguh hadir dalam wajah katekis awam yang telah menjadi martir dan tulang punggung Gereja, tidak hanya dalam masa penjajahan dan penganiyaan, tetapi juga dalam masa penyebaran Injil di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Melihat kembali masa-masa ini, benarlah kata P. theophile Verbist, pendiri CICM bahwa “tidak ada yang mustahil bagi seseorang yang mencintai”. Dia yang mencintai Tuhan pasti akan mencintai umat-Nya.

Facebooktwittermail
Facebooktwitterrss

Sejarah Berdirinya CICM

Awal Mula

Theophile Verbist lahir di Antwerp, Belgia pada 12 Juni 1823. Ditahbiskan sebagai seorang imam diosesan pada 18 September 1847. Pada 1849 beliau ditugaskan di seminari menengah Malines. Tahun 1853, Verbist menjadi Chaplain di sekolah militer di Brussels. Setelah itu, pada tahun 1860, Verbist diangkat menjadi Direktur Nasional Karya Sosial. Keterlibatannya dalam karya ini membuatnya mengetahui situasi penderitaan anak-anak yatim piatu di China. Keprihatinan atas situasi kemiskinan di China menjadi awal mula mimpi Verbist untuk membaktikan dirinya bagi karya misi di China. Rencana awalnya, Verbist akan berangkat ke China dengan beberapa imam diosesan untuk mendirikan panti asuhan di China. Akan tetapi rencana awal ini ditolak oleh Kardinal Engelbert Sterckx. Kardinal E. Sterckx menginformasikan bahwa beliau hanya akan mengijinkan Verbist dan kawan-kawannya berangkat ke China jika mereka bergabung kongregasi religious yang telah ada dan berkarya di China atau bergabung dengan Vikariat Apostolik di China. Berhadapan dengan situasi yang ada, Verbist kemudian merencanakan untuk mendirikan sebuah kelompok misionaris yang beranggotakan imam-imam Belgia.

Menjawab permintaan dan saran dari Kardinal E. Sterckx, pada 25 Juli 1861 Verbist mengirimkan petisi kepada Kardinal A. Barnabo, Prefek Propaganda Fide di Vatikan untuk meminta ijin pendirian sebuah kelompok religious misionaris untuk karya pelayanan di China. 10 Agustus 1861, Kardinal A. Barnabo dalam suratnya menginformasikan bahwa ia dapat menerima pendirian sebuah kongregasi baru dengan syarat adanya jumlah anggota yang cukup untuk mendirikan misi yang baru dan dukungan finansial yang cukup untuk mendukung karya misi tersebut. Setelah melalui berbagai tahap persiapan, akhirnya pada 28 November 1862 Kardinal E. Sterckx mengkanonisasi pendirian Kongregasi CICM dengan menyetujui statuta kongregasi serta mengangkat Theophile Verbist menjadi Superior General CICM. Pada awal pendiriannya, hanya ada lima anggota kongregasi muda ini, yakni Theophile Verbist, A. Van Segvelt, F. Vranckx, Remi Verlinden dan J. Bax.

 

Perjalanan Misi Pertama

Perjalanan misi pertama ke Cina dilaksanakan setelah tiga tahun pendirian kongregasi. Pada 25 Agustus 1865, Theophile Verbist (42 tahun) dan rombongannya Alois Van Segvelt (38 tahun), Francois Vranckx (35 tahun) dan Ferdinand Hamer (25 tahun) serta seorang awam, Paul Splingard meninggalkan Brussel untuk pergi ke Cina. Verbist mempercayakan Jaques Bax sebagai superior di rumah novisiat di Brussel dan Remi Verlinden menjadi pembantunya. Rombongan misionaris pertama tersebut tiba di Hsi-wan-tsu pada 5 Desember 1865 setelah menempuh perjalanan selama 103 hari lamanya.web

15 Januari 1866, Theophile Verbist secara resmi mengambil alih tanggung jawab sebagai vikaris Mongolia bagian tengah dan barat dari tangan imam-imam Lazaris. Pada oktober 1866, CICM secara resmi mengambil alih tugas pelayanan di seluruh wilayah Mongolia. Luasnya wilayah pelayanan membuat Verbist kemudian memutuskan untuk menunjuk A. Van Segvelt sebagai superior untuk wilayah bagian timur dan bertempat tinggal di Hsia-miao-erh-kou yang berjarak 150 mil dari Hsi-wan-tzu. Di wilayah ini ada sekitar 4000 orang Kristen yang tersebar di empat distrik. F. Hamer sendiri ditugaskan di Lembah Air Hitam, sekitar 140 mil dari Hsi-wan-tzu.  Sedangkan Verbist dan F. Vranckx tetap tinggal di Hsi-wan-tzu untuk mengurusi seminari yang memiliki 27 murid saat itu dan juga melayani 2000 orang Kristen yang tersebar di berbagai distrik.

Karya misi yang baru dimulai ini langsung dihadapkan oleh berbagai kesulitan. Ketiadaan sumber finansial yang memaksa Verbist untuk menggabungkan tiga rumah panti asuhan, kemiskinan yang luar biasa, bencana kelaparan yang ekstrim pada 1867 serta luasnya wilayah pelayanan yang memaksa kelompok misionaris muda ini hidup terpisah satu sama lain.

 

Doa dan Pengharapan: Landasan Iman Sang Pioner

Theophile Verbist dan para pengikutnya menempatkan sikap iman dan pengharapan terhadap Tuhan sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan misi. Sikap ini menggambarkan dua dimensi kehidupan yang mengutamakan relasi dengan Tuhan juga dengan sesama dalam misi. Oleh karena itu, hidup doa merupakan hal yang sangat penting. Perjalanan misi dari Belgia menuju Cina merupakan perjalanan iman. Theophile Verbist dan rombongannya hanya memiliki satu tujuan dalam perjalanan misi tersebut yakni, mengabarkan dan mewartakan iman kepada umat di China. Theophile Verbist sangat menekankan dan mengharapakan sikap percaya dan berani. Iman dan keyakinan merupakan sikap dasar bagi Verbist dan rombongannya.

Theophile Verbist sangat menekankan misi. Kehidupan doa bagi Verbist merupakan ekspresi iman dan kepercayaannya kepada Tuhan Sang empunya misi. Theophile Verbist menyerahkan karya misinya kepada Bunda Maria yang menjadi pelindung kongregasi. Magnificat Maria menjadi Magnificat Verbist. Melalui sosok Maria dimana inkarnasi menjadi dasar. Theophile Verbist sendiri yakin bahwa dirinya adalah instrumen Allah untuk membawa rencana Allah. Dalam karya misi, Theophile Verbist selalu percaya akan penyelenggaraan Allah. Dalam segala kesulitan dan tantangan yang dihadapi, Theophile senantiasa mempercayakan dirinya dan para konfraternya pada kerahiman dan kebijaksanaan Tuhan.

Dalam mengembangkan relasi antar sesama yang menggambarkan persaudaraan, pelayanan kasih, kesatuan hati dan pikiran, Theophile Verbist mengungkapkannya dalam kalimat yang kita kenal sebagai Cor unum et anima una atau sehati dan sejiwa. Semangat persaudaraan ini yang menjadi kekuatan bagi kelompok misionaris muda ini untuk membaktikan hidup seutuhnya bagi saudara-saudari yang dikirim Tuhan bagi mereka di negeri China. Semangat persaudaraan ini juga yang menggerakkan Verbist untuk melakukan perjalanan 140 mil jauhnya untuk mengunjungi konfraternya, F. Hamer. Ini adalah perjalanan misinya yang terakhir, perjalanan kembali kepada Sang Empunya misi yang menjemputnya di tengah perjalanan, perjalanan persaudaraan untuk para konfrater yang sangat ia kasihi. Perjalanan menembus daerah pegunungan dan lembah, perjalanan menembus dinginnya udara yang begitu ekstrim, perjalanan berhari-hari yang melelahkan; perjalanan yang ia tempuh dengan penuh kegembiraan untuk menyapa dan berkumpul bersama para konfraternya.

 

Benih-Benih Yang Merekah

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan buah banyak” (Yoh. 12: 24). Benarlah sabda Yesus dalam perjalanan iman kongregasi CICM merintis jalan untuk melayani Allah lewat sesama. Karya misi yang baru dimulai di negeri China ini telah berhadapan dengan berbagai macam kesulitan, termasuk kematian para pioner yang sebagian besar akibat penyakit typhus. A. Van Segvelt meninggal dunia pada 5 April 1867 dalam usia 40 tahun. Theophile Verbist wafat pada 23 Februari 1868 di Lao-hu-kou dalam usia 44 tahun. Pada saat kematiannya, Verbist baru berkarya di China selama 27 bulan. Kematian para pioner dalam usia yang begitu muda menjadi pukulan yang sangat berat bagi kongregasi yang baru bertumbuh ini. Akan tetapi karya Tuhan senantiasa melebihi segala kekuatiran manusia. Kongregasi muda yang terinspirasi oleh kebesaran jiwa Theophile Verbist terus bertumbuh. Dalam periode 1865-1887 telah ada 90 anggota CICM. 72 orang diantaranya telah diutus bagi karya misi di China. Sungguh, benih yang jatuh ke tanah dan mati itu telah menghasilkan banyak buah bagi karya Allah bagi umat-Nya. Iman inilah yang diungkapkan Paus Pius IX ketika mendengar berita tentang kematian Theophile Verbist “Manusia bisa gugur, tetapi Tuhan tidak akan membiarkan karya-Nya musnah.” Mimpi yang dimulai dalam kesederhanaan dan keterbatasan telah dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Facebooktwittermail
Facebooktwitterrss

Syarat-Syarat Bergabung Bersama CICM

 

  • Pria Katolik (usia maksimal 35 tahun)
  • Lulusan Seminari Menengah/KPA, SMA, Perguruan Tinggi Maupun yang Telah Bekerja
  • Membuat Surat Lamaran Resmi
  • Pendataan Pribadi
  • Surat Baptis Terbaru
  • Surat Krisma
  • Surat Ijin dari Orang Tua dan Persetujuan Pembiayaan Selama Masa Pra-Novisiat
  • Fotokopi Akte Kelahiran
  • Surat Keterangan Dokter
  • Fotokopi Laporan Pendidikan Kelas 2 dan 3
  • Fotokopi Ijasah Bagi Yang Sudah Lulus SMA di Tahun Sebelumnya
  • Transcript Nilai Bagi Yang Sudah Sarjana
  • Surat Rekomendasi dari Pastor Paroki atau Rektor Seminari
Facebooktwittermail
Facebooktwitterrss

Please Contact US

Beranikah Anda Bermimpi?
Beranikah Anda mewujudkan impian Anda?
Misionaris CICM berani bermimpi
mengubah wajah dunia
menjadi wajah Kristus …
Beranikah Anda menjadi misionaris???
Bergabunglah bersama kami …

 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi :

CICM Vocation Director

Guest House CICM Makassar

Jl. Biring Romang No. 19 Km. 13 Daya – Makassar

Telp./Fax (0411) 590 633

HP. 0812 1904 6545

Email : cicmvocation@cicmindonesia.com; cicmvocation@gmail.com

Facebook : cicm vocation indonesia

Twiter : cicm vocation indonesia

Facebooktwittermail
Facebooktwitterrss

PROGRAM PENDIDIKAN CICM INDONESIA

 

  • Tahap I : Pra-Novisiat
    • Masa Persiapan (Tahun Orientasi) selama kurang lebih satu tahun di Makassar – Sulawesi Selatan
    • Studi S1 Filsafat – Teologi di STF Driyarkara Jakartapd bambu
  • Tahap II : Masa Novisiat
    • Selama satu tahun di Filipinawisnu
  • Tahap III : Post Novisiat
    • Studi S2 Teologi di Filipina atau Kamerun selama dua tahun
    • Tahun Orientasi Pastoral di negara misi tempat perutusan selama dua/tiga tahunrobert bijaksana

Seluruh program pendidikan ini berakhir dengan pengikraran kaul kekal dan atau tahbisan Imamat

Facebooktwittermail
Facebooktwitterrss

Selamat Datang!!!

Selamat Datang di Official Website CICM Indonesia …

Congregatio Immaculati Cordis Mariae (CICM) atau Kongregasi Hati Tak Bernoda Maria adalah sebuah Kongregasi Internasional Religius Misionaris yang dipanggil dan diutus ke tempat dimana Injil belum dikenali atau belum dihidupi …

Semboyan kami adalah Cor Unum et Anima Una (Sehati Sejiwa) karena kami hadir sebagai saudara bagi siapa saja …

Facebooktwittermail
Facebooktwitterrss