Sejarah CICM di Indonesia

Awal Mula

Pada tahun 1919, seluruh wilayah Sulawesi ditetapkan sebagai Vikariat Apostolik dan dipercayakan kepada kongregasi MSC. MSC yang saat itu berpusat di Manado kemudian mengutus dua orang imam untuk berkarya di Makassar (termasuk seluruh wilayah Toraja) dan dua di imam diutus ke Raha, Sulawesi Tenggara.

Pada 1936, CICM yang saat itu telah memiliki 200 anggota asal Belanda merasa sudah saatnya untuk memulai misi di wilayah Indonesia, yang saat itu disebut Hindia Belanda. Awalnya MSC menawarkan kepada CICM untuk mengambil alih tugas pelayanan di Guinea Barat (Papua). Saat yang bersamaan ada juga tawaran dari OFM Cap untuk mengambil alih sebagian wilayah pedalaman Kalimantan. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka kedua usulan tersebut ditolak. CICM kemudian mengusulkan agar Sulawesi Selatan dan Tenggara dipisahkan dari Vikariat Apostolik Sulawesi dan diserahkan ke dalam pelayanan CICM. Usul CICM ini kemudian disampaikan kepada Provinsial MSC di Belanda, Vikaris Apostolik Sulawesi, Mgr. W. Panis, MSC dan diteruskan kepada Propaganda Fide di Roma. Pada 13 April 1937, usul CICM ini diterima oleh Vatikan dengan keputusan untuk membagi wilayah Vikariat Apostolik Sulawesi menjadi dua bagian. Wilayah Utara Sulawesi dipercayakan kepada MSC dengan Mgr. W. Panis, MSC tetap menjadi Vikaris Apostoliknya. Bagian Selatan dan Tenggara Sulawesi sendiri dipercayakan kepada CICM dengan Mgr. W. Panis, MSC untuk sementara ditunjuk menjadi administrator Apostoliknya.

Pada 2 Juni 1937, dua pastor CICM untuk pertama kalinya tiba di Makassar, yakni P. Charles Dekkers dan P. Jan van den Eerenbeemt. Keduanya sebelumnya menjadi misionaris di China. P. Jan van den Eerenbeemt ditugaskan di Raha (pulau Muna) menggantikan P. J. Spelz, MSC. Sedangkan P. C. Dekkers ditugaskan di Makassar, termasuk Sepang (Toraja Barat) dan Tana Toraja.

Pada 11 Juni 1937, Mgr. Gerard Martens, CICM secara resmi ditunjuk oleh Vatikan untuk menjadi Prefek Apostolik Sulawesi Selatan dan Tenggara. Berdasarkan penunjukkan tersebut, maka Mgr. G. Martens berangkat dari Belanda ke Makassar dengan tiga orang pastor CICM lainnya, yakni P. Chris Eykemans, P. Cornelis (Kees) van der Zant dan P. Gerard Menting. Pada 21 Oktober 1937, Mgr. G. Martens dilantik oleh Mgr. W. Panis, MSC sebagai Prefek Apostolik dengan moto ‘Sehati Sejiwa’. Tak lama berselang tiba sebelas pastor CICM di Makassar, yakni P. Gerrit Giezenaar, P. Voud Vervoort, P. Adrian van der Krabben, P. Wim Letschert, P. Jan van Empel, P. Nicholas Schneiders, P. Frans van Roesel, P. Harry Versteden, P. Ties Pijnenberg, P. Bert Raskin dan P. Paul Bressers. Pada saat itu telah ada 1955 orang Katolik di wilayah Sulawesi Selatan dan tenggara (750 orang diantaranya adalah orang Eropa). Penduduk Sulawesi Selatan sendiri saat itu berjumlah tiga juta orang dengan 33.000 orang adalah pemeluk agama Protestan.

Para pioner CICM dengan bantuan beberapa guru agama (pengantar) melakukan berbagai kegiatan untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya katekese umat untuk pembaptisan dan membangun sekolah-sekolah untuk mendidik anak-anak di kampung-kampung serta mulai melakukan kaderisasi dengan mendidik para awam serta mengirim beberapa anak dari Toraja untuk belajar di Makassar. Selain itu juga mereka berevangelisasi lewat bidang pertanian dan kesehatan.

 

Kerikil di Tengah Perjalanan

Pada 1 April 1940, kelompok misionaris muda ini telah kehilangan P. Chris Eykemans yang meninggal dunia karena sakit di Makassar. Sebuah pukulan berat bagi karya misi yang baru dirintis, tetapi juga sebagai sesuatu yang menantang para imam CICM untuk terus menyalakan api Injil di tanah Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Pada 9 Februari 1942, pasukan angkatan laut jepang mendarat di Makassar, untuk selanjutnya menguasai seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Pendudukan Jepang ini mempengaruhi karya misi para imam CICM di Sulawesi Selatan dan Tenggara karena semua imam CICM dipenjara di Pare-Pare. Selama masa Jepang Gereja Katolik tetap hidup berkat para guru agama dan katekis awam yang sangat berdedikasi memelihara iman umat. Hal ini sekali lagi menunjukkan karya Tuhan yang luar biasa dengan menghadirkan para pemimpin awam ditengah masa yang penuh dengan kesulitan dan tantangan. Para imam CICM dipenjara bersama 600 orang lainnya. Dalam masa penahanan ini mereka mengalami penyiksaan, kerja paksa, kelaparan, kekurangan gisi dan beraneka ragam penyakit. P. N. Schneiders, CICM yang dipilih sebagai ketua kamp penahanan bahkan pernah disiksa sampai pingsan karena melakukan protes atas situasi buruk yang dialami para tahanan. Masa yang sulit ini berakhir pada tahun 1945 ketika Jepang meninggalkan Indonesia. Semua imam CICM yang dipenjara kemudian bebas untuk melanjutkan kembali karya misi Gereja. Pada masa 1940-1950-an semakin banyak imam CICM yang dikirim ke Indonesia. Diantaranya adalah P. Gijs van Schie. P. Toon Denissen, P. Cor van de Meerendonk, P. jan van herself, P. Raymond Stock, P. Clem Scheurs, P. Paul Catry, P. Michele Mingneau dan P. Jerome Pattyn.

Vatikan pada 13 Mei 1948 meningkatkan status Prefektur Apostolik Makassar menjadi Vikariat Apostolik. Mgr. N. Schneiders, CICM ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Makassar menggantikan Mgr. G. Martens. Mgr. G. Martens sendiri diangkat menjadi Provinsial pertama CICM Indonesia. Namun beberapa bulan setelahnya beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Makassar pada 24 September 1949.

Periode 1949 – 1965 situasi keamanan di Sulawesi Selatan ternyata semakin memburuk dengan adanya pemberontakan Kahar Muzakar dan peristiwa PKI. Pemberontakan Kahar Muzakar sendiri mengakibatkan semua pendeta Protestan untuk meninggalkan Tana Toraja karena merasa terancam keselamatannya. Pada masa ini pun muncul pertanyaan: Apakah kita harus tinggal atau pergi dari Tana Toraja? Para imam CICM di Tana Toraja memutuskan untuk tetap tinggal bersama umat dalam situasi sulit ini. Keputusan mereka kemudian dikuatkan oleh Provinsial CICM Indonesia dan Superior General di Belgia. Pertengahan Juli 1950, P. G. Giezenaar yang dalam perjalanannya dari Tana Toraja ke Makassar mengalami penembakan di daerah Maros. Untuk menyelamatkan diri, mereka harus melompat keluar dari mobil dan bersembunyi di persawahan. Pada masa ini juga beberapa katekis menjadi martir karena dibunuh akibat mempertahankan iman mereka.

Pada 12 Februari 1953, P. Harry Versteden, CICM didatangi sekelompok orang di pastorannya di Minangga, Tana Toraja memohon pelayanan sakramen orang sakit. P. H. Versteden yang pergi bersama sekelompok orang ini tak pernah kembali lagi ke pastorannya. Kemudian hari baru disadari bahwa beliau telah diculik oleh gerilyawan. Seluruh konfrater CICM di seluruh dunia bersama umat di Tana Toraja, Luwu dan Makassar menyatukan doa untuk pembebasan P. H. Versteden. CICM dan umat harus menjalani penantian yang panjang akan kepastian nasib P. H. Versteden. Sembilan tahun setelah diculik dan dibawa ke dalam hutan, P. H. Versteden yang sementara sakit berat bisa diselamatkan dengan bantuan Brigadir Jenderal Muhammad Yusuf. Teror dari para gerilyawan juga dialami oleh beberapa imam CICM lainnya yang bertugas di Tana Toraja dan Toraja Barat dan Muna.

 

Tunas Itu Terus Bertumbuh

6 Juli 1952 Mgr. Schneiders mengalihfungsikan asrama putra di Makale menjadi seminari menengah sebagai jawaban dari pertanyaan Paus Pius XII dalam audensinya di Roma. Tahun 1953 seminari menengah ini dipindahkan ke Jl. Gagak di Makassar dan secara resmi dinamakan seminari menengah Petrus Claver. Untuk merespon kebutuhan untuk membangun Gereja Lokal yang kuat dan mandiri, maka CICM dalam kesepakatan dengan Mgr. Schneiders, CICM sepakat untuk tidak menerima kandidat imam untuk CICM. Semua siswa seminari Petrus Claver diarahkan untuk menjadi imam diosesan untuk memenuhi kebutuhan Gereja Lokal. Oleh sebab itu, sejak 1937 – 1977, CICM tidak menerima calon imam asal Indonesia.

Sekitar tahun 1974 mulai muncul desakan dari General Government di Roma untuk mulai memikirkan adanya sebuah rumah pendidikan CICM di Indonesia. Pada saat yang kurang lebih sama, juga ada tantangan dari Mgr. Leo Soekoto, Uskup Agung Jakarta kepada Provincial CICM Indonesia, P. Paul Catry: mengapa CICM tidak menerima orang Indonesia sebagai calon CICM? Apakah orang Indonesia tidak cukup berharga untuk menjadi misionaris CICM?

Dalam masa kepemimpinan P. Michel Mingneau sebagai Provinsial CICM Indonesia (1977 – 1982), kebutuhan akan hadirnya rumah pendidikan CICM di Indonesia mulai serius didiskusikan. Akhirnya pada tahun 1979, CICM mulai membuka seminari tinggi di Jakarta dengan P. Ludo Reekmans sebagai rektornya. Tiga calon pertama CICM menjalani kuliah di STF Driyarkara Jakarta. 16 Januari 1982 Uskup Agung Makassar, Mgr. Frans Van Roessel menerbitkan surat izin resmi pendirian novisiat CICM di Makassar. Pada mulanya bertempat di Malino, namun setahun kemudian dipindahkan untuk sementara ke wisma Kare di Makassar. Baru pada 19 Maret 1985 Novisiat secara resmi dipindahkan ke Sang Tunas di Daya – Makassar, rumah pendidikan yang digunakan sampai sekarang. Hal ini ditandai dengan pemberkatan rumah novisiat oleh P. Paul van Daelen, Superior General CICM.       

Pendirian rumah pendidikan CICM di Indonesia menjadi sebuah tonggak sejarah bagi CICM di Indonesia dan CICM di seluruh dunia. Tunas-tunas yang dihasilkan telah hidup dan bertumbuh di berbagai belahan dunia. Saat ini tunas-tunas muda CICM Indonesia telah diutus sebagai misionaris di sembilah negara di empat benua yang berbeda. Kehadiran tunas-tunas muda ini telah menjadi saksi akan persaudaraan universal dimana pun mereka hadir dan berkarya. Apa yang telah ditabur dan ditanam oleh para pendahulu CICM di Indonesia kini perlahan telah bertumbuh dan berbuah. Sekali lagi, Tuhan telah menunjukkan kebesarannya dalam perjalanan iman CICM di Indonesia. Kehadiran Tuhan sungguh menjadi kekuatan tak terbatas bagi para pendahulu dalam situasi penuh kesulitan, tantangan, penganiyaan, penculikan dan ancaman. Karya Tuhan yang ajaib sungguh hadir dalam wajah katekis awam yang telah menjadi martir dan tulang punggung Gereja, tidak hanya dalam masa penjajahan dan penganiyaan, tetapi juga dalam masa penyebaran Injil di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Melihat kembali masa-masa ini, benarlah kata P. theophile Verbist, pendiri CICM bahwa “tidak ada yang mustahil bagi seseorang yang mencintai”. Dia yang mencintai Tuhan pasti akan mencintai umat-Nya.

Facebooktwittermail
Facebooktwitterrss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *