Sejarah Berdirinya CICM

Awal Mula

Theophile Verbist lahir di Antwerp, Belgia pada 12 Juni 1823. Ditahbiskan sebagai seorang imam diosesan pada 18 September 1847. Pada 1849 beliau ditugaskan di seminari menengah Malines. Tahun 1853, Verbist menjadi Chaplain di sekolah militer di Brussels. Setelah itu, pada tahun 1860, Verbist diangkat menjadi Direktur Nasional Karya Sosial. Keterlibatannya dalam karya ini membuatnya mengetahui situasi penderitaan anak-anak yatim piatu di China. Keprihatinan atas situasi kemiskinan di China menjadi awal mula mimpi Verbist untuk membaktikan dirinya bagi karya misi di China. Rencana awalnya, Verbist akan berangkat ke China dengan beberapa imam diosesan untuk mendirikan panti asuhan di China. Akan tetapi rencana awal ini ditolak oleh Kardinal Engelbert Sterckx. Kardinal E. Sterckx menginformasikan bahwa beliau hanya akan mengijinkan Verbist dan kawan-kawannya berangkat ke China jika mereka bergabung kongregasi religious yang telah ada dan berkarya di China atau bergabung dengan Vikariat Apostolik di China. Berhadapan dengan situasi yang ada, Verbist kemudian merencanakan untuk mendirikan sebuah kelompok misionaris yang beranggotakan imam-imam Belgia.

Menjawab permintaan dan saran dari Kardinal E. Sterckx, pada 25 Juli 1861 Verbist mengirimkan petisi kepada Kardinal A. Barnabo, Prefek Propaganda Fide di Vatikan untuk meminta ijin pendirian sebuah kelompok religious misionaris untuk karya pelayanan di China. 10 Agustus 1861, Kardinal A. Barnabo dalam suratnya menginformasikan bahwa ia dapat menerima pendirian sebuah kongregasi baru dengan syarat adanya jumlah anggota yang cukup untuk mendirikan misi yang baru dan dukungan finansial yang cukup untuk mendukung karya misi tersebut. Setelah melalui berbagai tahap persiapan, akhirnya pada 28 November 1862 Kardinal E. Sterckx mengkanonisasi pendirian Kongregasi CICM dengan menyetujui statuta kongregasi serta mengangkat Theophile Verbist menjadi Superior General CICM. Pada awal pendiriannya, hanya ada lima anggota kongregasi muda ini, yakni Theophile Verbist, A. Van Segvelt, F. Vranckx, Remi Verlinden dan J. Bax.

 

Perjalanan Misi Pertama

Perjalanan misi pertama ke Cina dilaksanakan setelah tiga tahun pendirian kongregasi. Pada 25 Agustus 1865, Theophile Verbist (42 tahun) dan rombongannya Alois Van Segvelt (38 tahun), Francois Vranckx (35 tahun) dan Ferdinand Hamer (25 tahun) serta seorang awam, Paul Splingard meninggalkan Brussel untuk pergi ke Cina. Verbist mempercayakan Jaques Bax sebagai superior di rumah novisiat di Brussel dan Remi Verlinden menjadi pembantunya. Rombongan misionaris pertama tersebut tiba di Hsi-wan-tsu pada 5 Desember 1865 setelah menempuh perjalanan selama 103 hari lamanya.web

15 Januari 1866, Theophile Verbist secara resmi mengambil alih tanggung jawab sebagai vikaris Mongolia bagian tengah dan barat dari tangan imam-imam Lazaris. Pada oktober 1866, CICM secara resmi mengambil alih tugas pelayanan di seluruh wilayah Mongolia. Luasnya wilayah pelayanan membuat Verbist kemudian memutuskan untuk menunjuk A. Van Segvelt sebagai superior untuk wilayah bagian timur dan bertempat tinggal di Hsia-miao-erh-kou yang berjarak 150 mil dari Hsi-wan-tzu. Di wilayah ini ada sekitar 4000 orang Kristen yang tersebar di empat distrik. F. Hamer sendiri ditugaskan di Lembah Air Hitam, sekitar 140 mil dari Hsi-wan-tzu.  Sedangkan Verbist dan F. Vranckx tetap tinggal di Hsi-wan-tzu untuk mengurusi seminari yang memiliki 27 murid saat itu dan juga melayani 2000 orang Kristen yang tersebar di berbagai distrik.

Karya misi yang baru dimulai ini langsung dihadapkan oleh berbagai kesulitan. Ketiadaan sumber finansial yang memaksa Verbist untuk menggabungkan tiga rumah panti asuhan, kemiskinan yang luar biasa, bencana kelaparan yang ekstrim pada 1867 serta luasnya wilayah pelayanan yang memaksa kelompok misionaris muda ini hidup terpisah satu sama lain.

 

Doa dan Pengharapan: Landasan Iman Sang Pioner

Theophile Verbist dan para pengikutnya menempatkan sikap iman dan pengharapan terhadap Tuhan sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan misi. Sikap ini menggambarkan dua dimensi kehidupan yang mengutamakan relasi dengan Tuhan juga dengan sesama dalam misi. Oleh karena itu, hidup doa merupakan hal yang sangat penting. Perjalanan misi dari Belgia menuju Cina merupakan perjalanan iman. Theophile Verbist dan rombongannya hanya memiliki satu tujuan dalam perjalanan misi tersebut yakni, mengabarkan dan mewartakan iman kepada umat di China. Theophile Verbist sangat menekankan dan mengharapakan sikap percaya dan berani. Iman dan keyakinan merupakan sikap dasar bagi Verbist dan rombongannya.

Theophile Verbist sangat menekankan misi. Kehidupan doa bagi Verbist merupakan ekspresi iman dan kepercayaannya kepada Tuhan Sang empunya misi. Theophile Verbist menyerahkan karya misinya kepada Bunda Maria yang menjadi pelindung kongregasi. Magnificat Maria menjadi Magnificat Verbist. Melalui sosok Maria dimana inkarnasi menjadi dasar. Theophile Verbist sendiri yakin bahwa dirinya adalah instrumen Allah untuk membawa rencana Allah. Dalam karya misi, Theophile Verbist selalu percaya akan penyelenggaraan Allah. Dalam segala kesulitan dan tantangan yang dihadapi, Theophile senantiasa mempercayakan dirinya dan para konfraternya pada kerahiman dan kebijaksanaan Tuhan.

Dalam mengembangkan relasi antar sesama yang menggambarkan persaudaraan, pelayanan kasih, kesatuan hati dan pikiran, Theophile Verbist mengungkapkannya dalam kalimat yang kita kenal sebagai Cor unum et anima una atau sehati dan sejiwa. Semangat persaudaraan ini yang menjadi kekuatan bagi kelompok misionaris muda ini untuk membaktikan hidup seutuhnya bagi saudara-saudari yang dikirim Tuhan bagi mereka di negeri China. Semangat persaudaraan ini juga yang menggerakkan Verbist untuk melakukan perjalanan 140 mil jauhnya untuk mengunjungi konfraternya, F. Hamer. Ini adalah perjalanan misinya yang terakhir, perjalanan kembali kepada Sang Empunya misi yang menjemputnya di tengah perjalanan, perjalanan persaudaraan untuk para konfrater yang sangat ia kasihi. Perjalanan menembus daerah pegunungan dan lembah, perjalanan menembus dinginnya udara yang begitu ekstrim, perjalanan berhari-hari yang melelahkan; perjalanan yang ia tempuh dengan penuh kegembiraan untuk menyapa dan berkumpul bersama para konfraternya.

 

Benih-Benih Yang Merekah

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan buah banyak” (Yoh. 12: 24). Benarlah sabda Yesus dalam perjalanan iman kongregasi CICM merintis jalan untuk melayani Allah lewat sesama. Karya misi yang baru dimulai di negeri China ini telah berhadapan dengan berbagai macam kesulitan, termasuk kematian para pioner yang sebagian besar akibat penyakit typhus. A. Van Segvelt meninggal dunia pada 5 April 1867 dalam usia 40 tahun. Theophile Verbist wafat pada 23 Februari 1868 di Lao-hu-kou dalam usia 44 tahun. Pada saat kematiannya, Verbist baru berkarya di China selama 27 bulan. Kematian para pioner dalam usia yang begitu muda menjadi pukulan yang sangat berat bagi kongregasi yang baru bertumbuh ini. Akan tetapi karya Tuhan senantiasa melebihi segala kekuatiran manusia. Kongregasi muda yang terinspirasi oleh kebesaran jiwa Theophile Verbist terus bertumbuh. Dalam periode 1865-1887 telah ada 90 anggota CICM. 72 orang diantaranya telah diutus bagi karya misi di China. Sungguh, benih yang jatuh ke tanah dan mati itu telah menghasilkan banyak buah bagi karya Allah bagi umat-Nya. Iman inilah yang diungkapkan Paus Pius IX ketika mendengar berita tentang kematian Theophile Verbist “Manusia bisa gugur, tetapi Tuhan tidak akan membiarkan karya-Nya musnah.” Mimpi yang dimulai dalam kesederhanaan dan keterbatasan telah dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Facebooktwittermail
Facebooktwitterrss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *